Sunshine

Label: , , , , ,

0


BEGINNING DOESN’T ALWAYS START ON BEGINNING
by: Number02

(sunshine)



Penggunaan titik dan koma yang tepat pada sebuah karya tulis mempermudah pembaca untuk membaca tulisan itu. Terkadang, yang jadi masalah kita tidak begitu paham bagaimana cara yang tepat untuk menaruh titik dan koma tersebut. Seorang penulis pun harus perlu di dampingi dengan seorang editor dalam penulisan bukunya. Sehingga buku itu bisa menjadi sebuah karya tulis yang sempurna.

Sama halnya dalam urusan menentukan sebuah kisah baru. Kita juga harus tahu bagaimana cara untuk memberikan jeda, hela nafas, bahkan berhenti dalam menjalin sebuah hubungan. Tidak ada yang tahu pasti juga kapan waktu yang pas dalam mengungkapkan rasa cinta seseorang kepada seseorang yang dia cintai. Kadang itu perlu waktu yang lama untuk bisa menghubungkan tali kasih diantara mereka, kadang juga hanya perlu waktu singkat dan cinta timbul dengan sempurna.

Apa yang aku alami saat ini adalah sebuah kejadian yang mungkin pernah dialami hampir setiap insan di dunia. Dalam suasana yang mungkin tidak terlalu cocok untuk menentukan alur selanjutnya, tetapi hasrat hati ingin memberi tahu semuanya. Dalam keadaan warung ketoprak yang panas, ramai, dan sempit, kucoba untuk bisa memberikan suasana yang dingin untuk Vero.

Vero masih asik dengan memperhatikanku makan saat itu, dia hanya meminum air mineral yang di pesannya. Suasana gerah saat itu membuat dia harus menguncir rambutnya keatas sehingga terlihat tengkuk lehernya dengan rambut-rambut halus pada tengkuknya. Kemeja kotak-kotak yang ia kenakan pun juga terlihat sedikit kusut karena panasnya hari itu. Apa ini suasanya yang tepat? Apa hubungan cinta kita ini harus dimulai di warung ketoprak ini? Jika bukan disini, dimana lagi aku menemukan kondisi dimana kita sedang haus rasa cinta dan penasaran yang dahsyat dengan lawan bicara kita. Ku rasa, ini waktu yang tepat untuk setidaknya mengukapkan rasa yang aku alami selama kita kenal ini.

“Ver, lo yakin ga mau makan?”
“Engga Ren, gue udah kenyang. Lagian tadi udah makan sebelum jalan” 

“Hmm iya, panas juga ya hari ini?”

“Iya nih (sambil kipas-kipas dengan kertas brosur), lagian kok makan disini sih?”

“Engga apa-apa Ver, gua cuma lebih suka dengan kondisi yang merakyat ketimbang yang mewah”

“Gitu ya, gua juga suka sih kondisi yang gini tapi ya ga panas gini juga hehe”

“Ver.. boleh gua jujur?”
“Kenapa? Mau boker ya? Hahaha keringetan gitu”
“Ihh engga... Gue nyaman sama lo Ver”
“Apa deh Ren, haha lo keringetan gitu nyaman apanya?”
“Ini serius Ver, gua mulai suka dengan gaya bicara kita, gua mulai penasaran dengan apa
yang mau lu omongin, gua juga penasaran apa yang akan terjadi kita ketemu nanti”
“Iya Ren, gua juga ngerasa nyaman kok. Lo orangnya bisa bikin suasana beda”
“Kalau emang nyaman alasan kita, apa kita bisa mendapatkan lebih dari itu?”
“Maksudnya?”
“Gue pengen bukan sekedar nyaman, tapi cinta Ver”
“Mungkin cuaca panas kali ya lo jadi stress hehe”
“Engga, gua serius. Lo mau jadi pacar gua Ver?”
“Pacar? Kita belum terlalu lama kenal loh Ren. Yakin?”
“Yakin, gue suka sama orang yang kaya elo”
“Iya gua juga suka kok sama lo, tapi gua mau kalo lo bener-bener emang yakin”
“Gua yakin kok Ver”
“Oke deh Reno Sasongko, aku juga mau jadi pacar kamu..hihi”

Setelah hari itu, kehidupan kami senantiasa berubah. Ada banyak sekali tanda baca serta hiasan-hiasan pada kertas kami. Semuanya seakan saling membantu untuk membentuk sebuah karya tulis yang sempurna. Halaman demi halaman terisi dengan cerita menyenangkan. Angin pun tak bisa kurasakan jika hela nafas Vero didekatku. Semua hal seakan menjadi lapang ketika kita menceritakan hal-hal indah bersama. Hari esok akan seindah sunshine yang menemani hari-hari kita.

***
“Rina, gua sekarang udah pacaran”
“Serius? Lo ga PHP ini orang lagi kan?”
“Engga Rin, gua udah ga mau kaya gitu. Gua serius udah pacaran”
“Sama siapa? Kenalin lah ke gue”
“Vero, dia temen sekampus. Oke kapan-kapan gua kenalin”
“Tapi yakin lo ga bakal ngecewain dia kaya cewe yang lain?”
“Engga Rin, doakan ini bisa menjadi partner hidup gua”
“Anything for you Ren, long last ya..”
“Oke, thanks yaa”
Rina akan memberi support kepada ku apabila memang itu dirasa pantas olehnya. Kami memang teman yang akan saling menasehati satu sama lain apabila ada yang salah diantara diri kami. Dia akan berbicara dengan lantang apa yang tidak, apa yang mungkin, dan apa yang benar.

Hal ini juga aku beritahukan kepada Salsa, dia sangat antusias jika aku menceritakan hal ini kepadanya. Tidak ada rasa cemburu ataupun gelisah ketika ku ucapkan kata demi kata untuk mendeskripsikan bagaimana rupa dan watak Vero. Aku tidak melihat senyum palsu Salsa saat aku menceritakan kabar ini. Aku tahu bagaimana Salsa membuat senyum palsu dari bibir indahnya itu. Aku pernah pacaran dengannya kurang lebih 2,5 tahun lamanya. Segala kejelekan dan kebaikan sudah kami ketahui masing-masing. Aku merasa Salsa pun juga mempunyai calon pacar atau mungkin pacar diluar sana, jadi dia tidak merasa cemburu dengan cerita ku ini. Tapi dia tidak pernah bisa mau terbuka apa yang dia rasakan dan dia alami, semua orang yang mengenal Salsa harus mengetahui apa reaksi wajahnya dan apa yang dia mau. Dia akan berbicara tidak padahal itu adalah jawaban yang harus dijawab dengan “iya”. Seperti itulah Salsa, perbedaan sikap dan salah pengertian ku dulu membuat kita berakhir begitu saja hubungannya.

Matahari adalah mahluk yang paling setia menemani kita setiap hari. Tidak ada yang bisa menandingi kesetiaan dari mahluk yang satu ini. Dia selalu memberikan cahaya dan kehidupan di setiap hadirnya. Banyak orang mencoba mendedikasikan hidupnya seperti matahari, tapi usaha mereka tidak semuanya berhasil. Hanya seorang Ibu yang dapat berlaku seperti itu, Ibu merupakan karunia yang tak ternilai harganya di muka bumi ini. Sungguh sangat mahal pengorbanannya. Ibu dan matahari merupakan kesamaan yang terbatasi dalam dimensi yang jauh berbeda. Keduanya dapat menghidupi siapa saja yang dikahendakinya, dibawah naungannya kita merasa hangat

Matahari akan selalu menyinari dunia tanpa henti sampai malam menyambut. Tapi, kenapa kita tidak bisa melihat keindahan penyinar ini ketika dia menyinari? Apakah memang matahari tercipta hanya untuk berkorban? Kenapa kita kita harus menggunakan sebuah alat untuk mengetahui apa yang menyinari kita? Bukankah dia indah dan baik mau menyinari kita? Apakah ada yang bisa melihat matahari dengan mata telanjang ketika dia bersinar dengan teriknya, walaupun kita berusaha dengan mendaki gunung tertinggi pun kita juga tidak bisa melihatnya dengan jelas. Kenapa disaat dia datang kita tidak bisa menikmatinya dengan mata? Dan kenapa banyak orang baru bisa melihat matahari ketika dia hendak pergi dan hari berganti malam? Ketika itu, mereka baru sadar bahwa yang menyinari kita itu sangat indah sekali. Apakah semua hal indah itu harus ditandai dengan perpisahan? Kenapa kita menyesal jika matahari baru akan tenggelam? Kemana saja kita disaat dia menyinari kita, tidakkah kita mahluk yang tidak bersyukur? Untuk apa tuhan menciptakan keindahan ketika itu adalah sebuah perpisahan?

Aku dengan Salsa boleh dibilang seperti itu, kami terlalu asik dengan memberikan segala perhatian kami ke pasangan kami. Sehingga kami tidak bisa melihat apa bentuk perhatian dari pasangan masing-masing. Penjagaan yang super ketat, perhatian yang berlebih, kasih sayang yang tak kunjung henti bukan jaminan seseorang bisa merasakan cinta yang sesungguhnya dari pasangan itu. Kita baru bisa menikmati matahari ketika suasana teduh, kita baru bisa melihatnya dengan sedikit kejelasan yang ada. Entah aku atau Salsa, yang tidak bisa menerima atau melihat bentuk kasih sayang dari pacarnya. Yang pasti kita mungkin sama-sama salah sehingga kami pun akhirnya menyesali kepergian tali kasih diantara kita.

***

Bagiku Vero adalah sunshine yang bisa aku lihat ketika dia menemaniku. Aku sempat terpikir bahwa aku akan terkena karma saat ini. Aku dulu ketika masih berpacaran dengan Salsa sering dekat dengan perempuan lain. Alasannya, karena Salsa terkadang tidak bisa hadir ketika aku sangat membutuhkan dia. Terkadang dia terlalu repot dengan kesibukan yang dia punya, dengan alasan beragam dia pasti menolak ajakanku untuk pergi ataupun sekedar jalan mencari udara segar. Aku tidak bisa sempurna menikmati aura Salsa ketika kita bersama, tapi sudah banyak bahkan terlalu banyak kenangan yang kita punya.

Dengan Vero, aku harapkan bisa jauh lebih baik ketimbang Salsa. Vero juga memiliki kegiatan yang cukup banyak. Berperan aktif pula di kegiatan yang dia ikuti. Tapi yang aku rasakan berbeda, Vero masih bisa memancarkan aura sunshine nya ketimbang Salsa. Apa mungkin Vero hanya mempunyai sinar yang redup sehingga aku bisa merasakan setiap cintanya. Sudah hampir 2 minggu kami berpacaran dan semuanya berjalan dengan baik. Setiap pagi bahkan malam kami mengucapkan kata-kata yang dapat menyejukan hati.

Semua pikiran tentang hukum karma itu terasa sirna karena bagiku Vero memberikan kenyamanan yang luar biasa. Aku takut bahwa Vero akan memperlakukanku seperi gadis lain yang sudah aku kenal. Sebelum Nafia aku sudah kenal dengan beberapa gadis dan semuanya gagal. Karma itu seakan nyata ketika dulu aku sering sekali memberi sebuah harapan kepada gadis lain dan meninggalkannya ketika Salsa sudah bisa kembali menyadari kehadiranku. Selalu begitu ketika Salsa cuek, diam dan tidak peduli dengan kehadiranku.

Banyak temanku sudah mengingatkan bahwa aku jangan terlalu dalam bermain dengan hati wanita, akan berakibat fatal pada akhirnya. Nafia aku harapkan yang terakhir. Sudah cukup aku terkena karma ini. Ditolak dan diacuhkan wanita karena aku dulu suka memberi harapan palsu (PHP) ke wanita lain.

Mungkin karma itu tidak mudah hilang seperti goresan pasir pantai yang terkena ombak. Tidak mudah lenyap seperti debu pada meja kalian. Yang pasti itu terbukti ketika Vero secara tiba-tiba ingin bertemu denganku malam itu.
 “Ren, maaf ya malem-malem aku suruh km kesini”
“Iya ga apa-apa. Kenapa Ver?”
“Engga aku Cuma mau ngomong aja”
“Kan bisa lewat telepon Ver, penting banget?”
“Ya sebelumnya aku minta maaf ya, aku rasa kita kecepetan deh”
“Cepet apanya?”
“Menjalin hubungannya, aku ngerasa kita masih kurang memahami satu sama lain”
“Loh, tapi aku nyaman kok Ver dengan kamu yang begini”
“Iya tapi jujur, kamu belum begitu hadir di hatiku”
“Gitu? Tapi kamu yakin kalau aku yakin kan?”
“Iya Ren, maaf ya. Gimana kalau kita putus dulu?”
“Loh? Kok kenapa gitu pikiran kamu?”
“Iya kita lebih baik pdkt lagi dan mengenal lebih jauh dan pacaran”
“Itu pikiran kamu?”
“Iya Ren, kamu marah ya?”
“Ya aku kecewa aja Ver”
“Kamu mau ngejauhin aku ya?”
“Ya kita lihat nanti deh Ver, ga tau aku bingung banget”

Semua ini aku ceritakan kepada Rina, dia mengerti apa maksud hatiku. Dia juga sering kali menasehati bahwa karma itu ada dan bakalan terjadi kepada setiap orang. Tapi sampai kapan aku begini? Aku takutnya semua gadis yang pernah aku lakukan seperti itu mengutukku dengan kalimat yang macam-macam. Kurang lebih ada 3 wanita lain ketika aku berpacaran dengan Salsa. Salsa juga sudah terlalu sabar menghadapiku, tapi dia juga sangat cuek dengan kehidupan kita sehingga aku berlaku seperti itu.

Rina membantuku untuk menghilangkan karma yang melekat pada diriku, dia pun juga pernah merasakan karma. Dulu dia ketika pacaran suka melihat cowo orang lain yang sedang pacaran juga di tempat lain. Karmanya ketika Rina sekarang pacaran dengan pacar barunya, banyak perempuan yang melihat ke arah cowonya ketika Rina sedang jalan dengan cowonya. Dengan berlatar belakang memilki sebuah karma kami saling memecahkan masalah ini.

0 Response to "Sunshine"

Posting Komentar